Ular-ular Kain Serban
Absurditas Malka
Fiksi (Kumpulan Cerpen)
Halaman: 170
Tahun: 2012
Harga: Rp. 39.000
Preview:
Absurditas sebagaimana yang didebumkan oleh Albert Camus, senantiasa menyekap siapa saja dalam tikungan atau menyihir siap saja di dalam tempat paling pribadi, menjadikannya sosok asing yang tak lagi manusia, bahkan bukan juga kecoa sebagaimana Metamorfosa dalam cerita Kafka. “Aku tidak pernah menemukan diriku sendiri di setiap hari yang lain. Aku selalu terbangun menjadi sosok yang asing.” (Multiversum) Begitulah ujar yang paling dimengerti untuk menjelaskan kemenjadian manusia hari ini, selalu berjarak dan tidak pernah utuh, menjadi sosok-sosok yang bahkan berada di luar pilihan dirinya sendiri.
Absurditas hari ini bukan lagi perang metafisik, pertarungan antara Sisifus dan Dewa Kematian. Hari ini gendering perang berdentum di telinga setiap orang yang kalut dalam ketaman sistem, melawan cengkram kekuasaan, bersenang-senang di tengah-tengah amuk janji dan kebobrokan kuasa-kuasa yang semakin menyudutkan individu pada ranah yang paling tidak dimengerti. Manusia tidak lagi berada di luar dirinya, tidak lagi bermetamorfosa menjadi kecoa, manusia digugat untuk menjadi tiada.
“Betapa tangan di balik pelatuk begitu mustahil untuk ditemukan. Betapa sebutir peluru bisa begitu acak merenggut hidup dari tubuh seseorang.” (Desing) sebagai lakon absurd nusantara yang berulangkali terjadi, Poso, Timor Leste, Aceh dan yang sampai hari ini tak pernah tuntas, Papua. Peluru selalu menjadi keseharian ketika apa yang seharusnya diserahkan kepada rakyat, melulu digadaikan negara kepada bankir-bankir di negara antah berantah. Pada akhirnya, segala yang menghianati rakyat akan senantiasa menumpah darah.

No comments:
Post a Comment