Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Memaknai Tragedi (Esai Tentang Novel Elegi)

MEMAKNAI TRAGEDI
(Esai Republika, 3 April 2013)


Tragedi tentu menjadi tema setua hikayat manusia. Dipercakapkan bukan hanya di kalangan kaum agamawan yang diterakan nabi-nabi Ibrani, para filsuf namun juga sastrawan. Tragedi itu dapat bernama ketakutan berkepanjangan, musibah alam yang tak terhindarkan, politik yang dikelola tanpa kebenaran yang menyebabkan masyarakat kehilangan daulat ekonominya, atau agama yang terkelupas dari jangkar khittahnya.

Tragedi juga bisa berbentuk riwayat cinta yang tidak kesampaian seperti banyak dijadikan tema utama pujangga lama. Cinta yang seharusnya menjadi haluan utama dalam hal ihwal justru terangkat dari akar spiritual-ilahiah dan relasi kemanusiaan-insaniyah sehingga semua menjadi serba gelap. Seperti Hamlet yang menyerukan kepada Ophelia dalam dramanya William Shakespeare yang dikutip Jujun S. Suriasumantri (2003)

Sunday, March 3, 2013

Bahwa yang Terlihat Hitam Tak Selamanya Hitam (Resensi Madirda)

Hyang Girinata pun tak kuat menahan badai berahinya. Dia hanya bisa terpana dan air kelakiannya memancar seperti permata, jatuh membasahi selembar daun sinom yang tengah melayang jatuh. Angin masih bertiup kencang dan daun sinom meliuk-liuk sebelum jatuh di paha Anjani.
(Madirda) *Bahkan para dewa sekalipun!

“Siapa sebenarnya engkau, duhai satria tampan?”
Satria itu tersenyum. “Namaku Ramawijaya. Dan ini adikku Lesmana. Kami putra Prabu Dasarata ari Ayodya.”
Aku membalas senyumnya dengan seringai. “Oh, rupanya engkaulah satria pelindung jagat itu. Aku memang sudah ditakdirkan perlaya di tangan titisan Wisnu. Tapi mengapa engkau memanahku dengan cara seperti ini? Apa salahku? Mengapa engkau memanahku secara tidak satria? Kalau seorang titisan dewata yang terkenal itu bertindak demikian tercela, bagaimana orang bisa membedakan kebajikan dan kejahatan? Lagi pula, aku bertempur dengan adikku sendiri dengan urusan pribadi. Mengapa engkau turut campur? Serta datang dengan gelar pasukan tak terkira? Aku tak pernah berpikir melibatkan rakyatku. Aku berharap bahwa setelah salah satu dari kami kalah, selesai pulalah persoalan. Tapi kini....”
(Kiskenda) *melanggar batas teritorial

Wednesday, February 6, 2013

Virgina Wolf dan Secangkir Maryam (Resensi Payudara)

Menjadi perempuan itu pedih
Menelan hampa sendiri
Berjongkok di pojok sendiri

(Skylashtar Maryam)


Virgiana Wolf pernah menulis bahwa seorang perempuan harus mempunyai uang dan ruang bagi dirinya sendiri untuk menulis fiksi dan itu membiarkan hal besar tentang sifat perempuan dan sifat fiksi tidak terpecahkan. Wolf memandang bahwa pembicaraan ihwal perempuan dan fiksi dapat berarti perempuan dan seperti apa mereka; atau perempuan dan fiksi yang ditulis tentang mereka; atau semua itu menyatu.