MEMAKNAI TRAGEDI
(Esai Republika, 3 April 2013)
Tragedi tentu menjadi tema setua hikayat manusia. Dipercakapkan bukan hanya di kalangan kaum agamawan yang diterakan nabi-nabi Ibrani, para filsuf namun juga sastrawan. Tragedi itu dapat bernama ketakutan berkepanjangan, musibah alam yang tak terhindarkan, politik yang dikelola tanpa kebenaran yang menyebabkan masyarakat kehilangan daulat ekonominya, atau agama yang terkelupas dari jangkar khittahnya.
Tragedi juga bisa berbentuk riwayat cinta yang tidak kesampaian seperti banyak dijadikan tema utama pujangga lama. Cinta yang seharusnya menjadi haluan utama dalam hal ihwal justru terangkat dari akar spiritual-ilahiah dan relasi kemanusiaan-insaniyah sehingga semua menjadi serba gelap. Seperti Hamlet yang menyerukan kepada Ophelia dalam dramanya William Shakespeare yang dikutip Jujun S. Suriasumantri (2003)




